Bencana banjir bandang melanda  Desa Sambungrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tanggal 29 April 2017 lalu. Banjir menyebabkan warga kehilangan rumah, pekerjaan, hewan ternak dan lahan pertanian.

Desa Sambungrejo terletak di kaki Gunung Sokorini dengan kondisi geografis berbukit-bukit dengan beberapa sumber mata air disekitarnya. Adanya sumber mata air membuat penduduk berinisiatif untuk menanam tanaman kenci (selada air) yang mudah tumbuh dalam aliran air.

“Kenci awalnya hanya dimanfaatkan untuk dijadikan lauk sehari-hari, tinggal direbus dan dipadukan dengan sambel pecel. Namun, kini kenci dapat dijual sebagai camilan sehat dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Astutik Ningsih.

Astutik (Ilmu Administrasi Negara ’17), Yulfatunisa (Ilmu Administrasi Negara ’17), Rizqiyatu Zuthfiyah (Ilmu Administrasi Negara ’17), Ani  Wulan Rahmawati (Pendidikan Bahasa Inggris ’17) dan Laeli Lafi Khusnatun (Ekonomi Pembangunan ’18) mengusung Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-P) “KERINCI” Peningkatan Ketrampilan Masyarakat Pasca Bencana dalam Mengolah Potensi Lokal Dusun Sambungrejo.

Kelima mahasiswi Universitas Tidar ini membuat sebuah program pelatihan pengolahan kenci menjadi keripik aneka rasa. “Hasil sharing dengan ibu-ibu PKK Desa Sambungrejo, warga saat ini mengharapkan bantuan berupa program-program yang dapat membantu mereka melakukan perbaikan ekonomi, bukan hanya program yang bersifat sementara, namun juga program yang memiliki keberlanjutan,” tambahnya.

Mereka optimis dengan pelatihan keripik kenci ini dapat menjadi salah satu mata pencaharian warda Desa Sambungrejo.

Cara pengolahannya cukup mudah. Daun kenci dicuci bersih dan ditiriskan. Siapkan adonan keripik yang terdiri dari tepung terigu dan tepung beras serta bumbu. Goreng kering daun kenci yang telah dibalur dengan adonan.

Setelah dingin keripik kenci dibagi ke beberapa wadah untuk dicampur dengan beberapa rasa “kekinian” seperti pedas, balado, dan jagung manis pedas, balado dll.

“Keripik kenci atau kami sebut ‘kerinci’ diberi tambahan beberapa rasa untuk menarik konsumen. Dikemas secara moderen dan dipasarkan di beberapa koperasi dan toko di wilayah Grabag juga melalui media sosial melaui Facebook, Instagram dan Whatshap. Kerinci dijual dalam beberapa ukuran kemasan yaitu 100 gr seharga Rp 8.000, 250 gr seharga Rp 15.000 dan 500 kg seharga Rp 25.000.

“Ibu-ibu PKK Desa Sambungrejo sangat antusias dengan program ini terutama bagi mereka ibu-ibu rumah tangga. Selain menjadi pengisi waktu luang juga menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga,” pungkasnya. (Tim PKMP Kerinci/HDN/DN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here