Kabupaten Magelang saat ini sedang gencar melaksanakan berbagai program  untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Kabupaten yang memiliki 1.299.859 jiwa ini, memiliki persentase angka rata-rata kemiskinan sebesar 11,27% pada maret 2020, lebih tinggi dibanding maret 2019 yang sebesar 10,67%. Oleh karena itu, diperlukan program pemberdayaan masyarakat guna menurunkan angka kemiskinan daerah Kabupaten Magelang. Berangkat dari latar belakang inilah 15 orang mahasiswa UNTIDAR dari program studi Pendidikan Matematika yaitu Rista Nur Eka Budiyani, Bagas Ardiyanto, Gunawan, Zakkiyatun Nisaa Fadhilatullathifi, Maryam Abdulloh, Isna Chofifah, Lailatul Asria, Hemas Nabila Ardelia Arrofat, Fitriyanti, Tri Astutiningsih, Recka Suci Meliani, Nur Layaliya Buraidah, Fitriani Lestari, Zahro Ulfa Auliya, dan Yulhana Faradilla menggagas LALISTA APIK (Pengolahan Limbah Ampas Tahu Menjadi Kripik), sebuah program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Magelang, tepatnya di Dusun Sengon Desa Trasan Kecamatan Bandongan.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh Rista dan tim di Desa Trasan Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, ditemukan Pabrik Tahu dengan pengolahan limbah ampas tahu yang belum maksimal, sehingga bau yang ditimbulkan sering kali menyengat. Hal ini menyebabkan desa dengan penduduk 7.881 jiwa tersebut merasa tidak nyaman.  “Tercetus ide LALISTA APIK (Pengolahan Limbah Ampas Tahu Menjadi Kripik). Selain dapat menjadi solusi dari permasalahan limbah ampas tahu, ampas tahu bisa diolah agar bernilai ekonomis dan menjadi sumber pendapatan di Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK”, ujar Rista. “Kami juga membantu cara mempromosikan dan mempublikasikan LALISTA APIK sebagai sebuah industri kreatif baru yang memiliki nilai jual tinggi. Selain itu kami juga berupaya mengembangkan potensi desa binaan berbasis industri kreatif yang dapat meningkatkan penghasilan masyarakat setempat”, tambah Rista.

Berdasarkan hasil survey awal di wilayah Kabupaten Magelang, Kecamatan Bandongan tepatnya di Dusun Sengon Desa Trasan, Rista dan tim menemukan potensi usaha yang dapat dikembangkan secara optimal yakni limbah ampas tahu untuk dijadikan camilan inovatif yaitu menjadi kripik ampas tahu. Meski demikian masyarakat setempat memiliki keterbatasan terkait pendanaan. Masalah lain yang dihadapi adalah kurangnya partisipasi dari masyarakat, minimnya sarana prasarana yang dimiliki, dan kurangnya kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah ampas tahu menjadi produk yaang lebih kreatif agar mendapatkan nilai jual yang tinggi. “ Sehingga diperlukan adanya kerjasama antara masyarakat dengan pihak ketiga untuk melakukan sosialisasi, pendampingan dan juga pelatihan guna meningkatkan kemampuan, kualitas dan ketrampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha pengolahan limbah ampas tahu”, jelas Rista.

“Setelah melakukan berbagai persiapan dan sosialisasi, kami mengadakan pelatihan dengan menggunakan metode pendampingan rutin bekerjasama dengan fasilitator (pemilik home industry pabrik tahu di Desa Trasan). Kami juga mengadakan pelatihan komunikasi publikasi untuk mengenalkan masyarakat pada platform-platform penunjang publikasi produk dengan memanfaatkan media sosial yang sedang trend di kalangan masyarakat. Selain itu dalam hal publikasi pemasaran akan dibuat website resmi produk serta pemanfaatan akun-akun jual beli online. Pelatihan ini diharapkan mampu membentuk jejaring sosial yang dapat dioperasionalkan oleh lembaga masyarakat lokal terkait”, urai Rista.

LALISTA APIK adalah program pemberdayaan masyarakat yang tahun 2021 ini berhasil lolos seleksi PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa)  Kemendikbudristek. Melalui PHP2D diharapkan bisa menumbuhkan rasa peduli mahasiswa dan berkontribusi kepada masyarakat desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here