PKM-T (Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi)  berjudul “Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping)” yang di ketuai oleh Ari Aprianto merupakan salah satu yang mengikuti Monev (Monitorong dan Evaluasi) beberapa bulan lalu di Semarang.

Awalnya Ari bersama tim berkunjung di sebuah industri rumahan milik Bapak Slamet di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Keseluruhan proses produksi masih manual, alat yang digunakan pun masih sederhana. Sementara permintaan pasar melebihi jumlah produksinya.

“Proses yang manual itu sangat menguras tenaga, jadi kami berfikir untuk membuat terobosan baru agar produksinya lebih cepat dan permintaan konsumen dapat terpenuhi”, jelasnya.

 Ari Apriyanto beserta Abdullah Labib, Adi Farhan Khamid, Aji Setiyawan, dan Rinaldi Ridho Arrahman mulai menciptakan mesin dengan tenaga listrik 188 watt tersebut. Cara kerjanya Pidaduping cukup sederhana, sebuah motor listrik berputar menggerakkan pulley kecil yang kemudian dihubungkan oleh v-belt untuk menggerakkan pulley besar. Kemudian pulley besar menggerakkan poros. Pada poros tersebut terdapat tiga tuas vertical yang akan menggerakan kayu pemipih bergerak ke atas dan ke bawah sesuai putaran poros. Alat tersebut menghasilkan 100 keping emping per menit.

“Pembuatan Pidaduping itu mengabiskan dana kurang lebih 4 juta rupiah ini mampu memproduksi 100 keping emping singkong per menit”, tambahnya.

Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping) ini dibuat melalui beberapa proses selama 4 bulan. Pertama, tim melakukan identifikasi masalah, perancangan dan pembuatan mesin. Kemudian dilakukan proses pengujian untuk melihat kinerjanya sesuai dengan konsep yang direncanakan atau tidak. Selanjutnya dilakukan analisa dan perbaikan agar mesin dikatakan layak pakai. (Puji Lestari-mg/HDN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here