Limbah pengolahan kayu berupa serutan masih kurang dimanfaatkan secara maksimal. Masyarakat hanya menggunakannya sebagai bahan bakar atau dibuang begitu saja. Ditangan 5 mahasiswa Universitas Tidar, serutan kayu diolah menjadi lukisan 3 dimensi bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Mahasiswa kreatif ini adalah Muhammad Khusni Mubarok, Filla Ardyarti, Puji Lestari, Lilis Sinarsih dan Hermowo Pribadi Dewabroto yang menuangkan ide mereka dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dengan judul Pemanfaatan Nilai Estetika Limbah Serutan Kayu sebagai Bahan Baku Pembuatan Lukisan Tiga Dimensi.

“Bapak saya seorang tukang kayu, banyak limbah pengolahan kayu seperti serbuk dan serutan hanya dibiarkan saja disekitar rumah. Dari sinilah timbul ide untuk memanfaatkan limbah ini menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual,” kata Khusni, Ketua PKMK Lukisan Tiga Dimensi Limbah Serutan Kayu atau disingkat LUGABUT.

Serutan kayu memiliki bentuk spiral dan tipis sehingga mudah untuk dipotong atau dibentuk sesuai kebutuhan. Kesan tiga dimensi yang menjadi ciri khas LUGABUT meningkatkan nilai seni dan estetika yang lebih dibandingkan lukisan dua dimensi yang biasa kita temui.

“Produk  kami berbeda, mempunyai ciri khas tersendiri. Tak sekedar lukisan tapi kami membuatnya ‘hidup’ dalam bentuk tiga dimensi serta memunculkan kesan seperti kolase,” tambah Khusni.

Filla Ardyarti salah satu anggota PKMK LUGABUT menjelaskan bahwa ada 2 macam produk lukisan yang dihasilkan. “Ada dua macam lukisan yaitu yang menggunakan semen atau hanya kolase saja. Awalnya serutan kayu disortasi dan dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kalo mau membentuk lukisan bunga maka serutan kayu dipotong menyerupai kelopak dan daun,” jelas Filla.

Papan triplek disiapkan sebagai media lukisannya kemudian serutan kayu disusun satu per satu menggunakan lem kayu disesuaikan dengan lukisan yang akan dihasilkan. Setelah tersusun semuanya maka langkah selanjutnya dalah pengecatan. Setelah cat kering maka proses selanjutnya adalah pelapisan dengan pernis dan plitur lalu dibingkai.

“Sedikit berbeda dengan model kolase, model lukisan dengan semen perlu digambar dulu polanya di papan tripleknya sesuai yang diinginkan. Pola tersebut yang nanti diberi semen lalu dikeringkan. Setelah kering lalu serutan kayu ditempelkan,” tambah Filla.

LUGABUT dipasarkan mulai dari harga Rp 100.000 disesuaikan dengan ukuran serta kerumitan pembuatan. Semakin rumit proses pembuatannya makan harganya juga akan semakin mahal. Pemasaran LUGABUT memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Seluruh anggota PKMK juga menginformasikannya melalui grup-grup Whatsap atau melalui jaringan pribadi masing-masing.

Perawatan LUGABUT juga tergolong mudah. Hanya diperlukan kuas untuk menghilangkan debu-debu yang menempel dalam permukaannya. Produk ini dilapisi plitur dan pernis. Lapisan ini melindungi serutan kayu sehingga tidak mudah berjamur.

LUGABUT mempunyai nilai jual yang tinggi. Bahan dasar utama pembuatannya dapat ditemukan dengan mudah bahkan dapat didapatkan secara gratis. Produk inovatif ini memiliki daya jual tinggi dan berpotensi menambah penghasilan masing-masing anggota PKMK LUGABUT.

Dosen Pembimbing, Dr. Farikhah, M.Pd. mengungkapkan bahwa karya PKM tersebut mempunyai unsur seni yang membutuhkan ketelatenan yang tinggi untuk membuat produk tersebut. “Karya PKM tersebut sangat kreatif dan butuh ketelatenan, selain itu juga butuh jiwa seni atau imajinasi seni yang tinggi untuk membuat karya tersebut. Tidak sekadar memanfaatkan limbah tapi juga punya nilai seni tinggi,” ungkap Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNTIDAR tersebut. (Silva Nurul Farida-mg/DN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here