Mahasiswa Universitas Tidar berhasil menciptakan Inovasi Pengendalian Hama Serangga pada Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) dengan Metode Ultrasonic Wave end Light Trap Berbasis IoT.

Alat ini diciptakan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa-Penerapan Teknologi (PKM-PI) UNTIDAR yang diketuai oleh Wahyu Fitri Yanto (S1 Teknik Mesin) dengan anggota Teguh Rahayu Widodo (S1 Teknik Elektro), Hamid Afandi (S1 Teknik Mesin), Alfiyah Ibni Aqil (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) dan Catur Prihatiningrum (S1 Agroteknologi)

“Penyemprotan tanaman bawang merah menggunakan pestisida untuk mengatasi hama ngengat dinilai kurang efektif. Kelompok Tani Dadimulyo, Brebes mengeluhkan telur ngengat yang bersembunyi di daun belum terjangkau semprotan pestisida,” tutur Wahyu.

Selain itu, efek penyemprotan hanya bertahan beberapa bulan saja karena hama serangga menjadi kebal terhadap obat pestisida setelah pemakaian dalam jangka waktu lama. Pengendalian secara manual juga mengakibatkan biaya dan kebutuhan tenaga meningkat sehingga petani merasa kesulitan.

“Alat ini memiliki beberapa keunggulan yaitu dilengkapi dengan teknologi Internet of Thing (IoT), ramah lingkungan, menggunakan renewable energy serta dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia,” tambah Hamid, salah satu anggota tim.

Sistem kerja alat ini memanfaatkan energi dari sinar matahari. Melalui panel surya 20 Wp, sinar matahari dikonversi menjadi energi listrik dan disimpan pada baterai 12 volt. Alat ini juga dapat dioperasikan secara jarak jauh melalui sistem IoT. Inovasi ini diharapkan dapat menekan tenaga dan biaya yang harus petani keluarkan untuk pengendalian hama serangga tanaman bawang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Alat ini bekerja dengan dua sistem yaitu sistem gelombang kejut (shock wave) dan sinar penjebak (trap ray). Sistem gelombang kejut bekerja ketika ada hama serangga terbang mendekat dengan radius 4 m dari alat dan cenderung akan terbang ke tanaman. Sensor ultrasonik akan membaca dan mengirimkan sinyal kepada mikrokontroler. Kemudian, mikrokontroler mengirimkan sinyal perintah untuk mengaktifkan speaker yang akan menghasilkan gelombang kejut dengan frekuensi > 20 kHz yang dapat mengusir hama serangga.

Pada malam hari, sensor LDR membaca intensitas cahaya mendekati nol, kemudian mengirimkan sinyal kepada mikrokontroler. Lalu, mikrokontroler akan mengirimkan perintah untuk mengaktifkan LED sehingga akan menyala sepanjang malam yang berfungsi menarik perhatian hama serangga untuk mendekat. Bersama dengan LED, dipasang jebakan berupa cairan beracun yang dapat membunuh kawanan hama serangga. Ketika terdapat hama serangga yang terbang turun ke tanaman pada malam hari, sistem gelombang kejut akan aktif dan mengusir kawanan hama serangga.

Alat ini telah diuji coba di Desa Langgeng, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung pada Rabu, 2 September 2021. Pada ujicoba tersebut, diperoleh hasil bahwa alat ini mampu menggantikan peran pestisida dalam membasmi hama serangga yang menyerang tanaman bawang merah. Penerapan alat ini pada mitra menghasilkan penghematan biaya serta tenaga penyemprotan mencapai 27,93%. Penggunaan alat ini akan membantu meningkatkan potensi panen bawang merah yang tinggi. Hal ini dapat terjadi karena alat ini akan menurunkan tingkat kerusakan umbi bawang merah akibat serangan hama.

“Setelah ujicoba ini, kami akan mengirim alat ini ke mitra kerja di Desa Keboledan, Brebes dan kami juga akan menyerahkan buku panduan alat agar mitra dapat menggunakan, merawat dan memperbaiki alat jika kedepannya perlu dilakukan perbaikan. Kami juga berharap mitra dapat memproduksi alat ini secara mandiri sesuai dengan buku panduan,” tambah Teguh, salah satu anggota tim.

Penulis : Alfiyah Ibni Aqil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here