Mahasiswa sebagai bagian dari generasi Z, diharapkan memiliki berbagai ide yang kreatif dan inovatif. Generasi millennial diharapkan bisa berkontribusi membangun perekonomian bangsa dengan turut andil menciptakan berbagai peluang usaha baru. Mencermati fenomena di masyarakat kemudian mencetuskan ide berwirausaha.

Hal ini juga yang diterapkan oleh Dina Kurniasari, Anisa Solihati dan Mariska  Naila Zifi An Najmi. Ketiganya adalah mahasiswa program studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTIDAR. Dina dan tim memperkenalkan dan mempopulerkan kepada masyarakat produk fashion berbahan alam yang ramah lingkungan. Mulai dari serat, pewarna, dan motif semuanya terbuat dari bahan alami. Dengan populernya tekstil berbahan alam, Dina berharap dapat mengurangi penggunaan pakaian berbahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu, kepopuleran produk ecoprint ini diharapkan mampu meningkatkan produk fashion yang bermuatan lokal.

Fashion atau gaya saat ini menjadi suatu hal yang diminati masyarakat. Ketertarikan akan fashion diikuti maraknya keberadaan industri fashion. Namun, selama ini industri fashion banyak sekali menghasilkan limbah berbahan kimia dan menyebabkan polusi. Salah satunya adalah penggunaan pewarna sintesis seperti naftol, remasol dan indigosol. Bahan pewarna tersebut tergolong tidak ramah lingkungan. Apabila limbah-limbah mengalir ke dalam tanah, bahan-bahan tersebut akan merusak ekosistem tanah karena bakteri tanah tidak mampu mengurai bahan-bahan kimia. Jika dibiarkan, maka bumi akan semakin tercemar. Oleh karena itu, Dina dan tim berinisiatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan membuat produk berbahan dasar alami dan ramah lingkungan.

“Produk yang kami hasilkan adalah jilbab bermotif dan berbahan dasar alami. Jilbab yang menarik tentunya adalah yang unik dalam segi bentuk, model, warna maupun motifnya. Orang tentunya lebih tertarik untuk memiliki jilbab yang motifnya exclusive dan hanya dimiliki oleh dia sendiri. Karena inilah kami membuat dan mempopularkan produk yang cukup unik yaitu motif dedaunan, yang diambil dari motif daun sungguhan, yang warna dan motifnya dipindahkan ke dalam kain. Proses ini biasa disebut dengan ecoprint”, jelas Dina.

“Keunggulan produk kami dibandingkan dengan kompetitor yaitu motif tidak ada yang menyamai (limited), menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan sehingga mengurangi pencemaran. Selain itu di Magelang belum banyak yang memproduksi ecoprint untuk kerudung. Yang pasti pembeli bisa memilih motif sesuai selera dengan nilai estetika yang tinggi”, tambah Dina.

Dina menjelaskan bahwa segmentasi usahanya dibagi menjadi dua, yaitu kalangan muda dan dewasa. Untuk kalangan muda cenderung menyukai warna-warna pastel. Disamping itu kalangan muda kondisi keuangannya masih terbatas. “Jadi untuk kalangan muda, kami fokus dan menargetkan warna pastel dengan motif sederhana yang ramah di kantong. Sedangkan motif istimewa, kami fokuskan kepada khalayak dewasa karena harganya yang lebih tinggi”, ujar Dina.

“Saya dan tim merasa sangat senang ketika proposal usaha Nateco Hijab (Natural Ecoprint Hijab) yang kami cetuskan, bisa lolos dan mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek melalui program KBMI tahun 2021. Tentunya ini membuat kami begitu bersemangat untuk mengembangkan Nateco Hijab dan berharap produk kami ini bisa diterima oleh masyarakat”, pungkas Dina mengakhiri wawancara.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum (Humas UNTIDAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here