Emha Ainun Najib atau lebih akrab disapa Cak Nun menekankan bahwa konsep “Sinau Bareng” adalah menempatkan para audience atau jamaah sebagi subyek utama bukannya dirinya.

“Kita itu fasilitator ibarat wadah sayur. Kalo anda butuh kangkung ya ambil kangkungnya, butuh kecambah ya diambil kecambahnya. Kalo anda pasif dan konsumtif maka tidak akan dapat apa-apa tapi kali aktif dan berperan sebagai pelaku utama maka anda akan bergerak kreatif,” tutur Cak Nun di halaman parkir Universitas Tidar, Jumat (14/12).

Mengangkat tema “Ngrumat Sejarah Tidar, Ngrakit Kawicaksanaan, Mbangun Peradaban”, acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng ini mampu menarik perhatian ribuan jamaah baik dari sivitas akademika UNTIDAR serta masyarakat Magelang dan sekitarnya.

Hujan yang sempat membuat lokasi menjadi becek tidak menyurutkan keinginan para jamaah bertemu serta mendapatkan ilmu baru dari Cak Nun. Sajian hiburan dari Kyai Kanjeng juga membuat suasana pengajian menjadi tambah semarak.

Meruntut sejarah Tidar, berawal dari sejarah pembabatan tanah Jawa pada masa kekuasaan Kesultanan Turki. Raja mengirimkan ulama untuk pembabatan dengan cara berdakwah untuk mengajarkan agama islam dengan cara peperangan. Namun menurut Syekh Subakir, utusan Kesultanan Turki, metode peperangan tidak lagi efektif dan ttidak bisa mencapai titik final.

“Maka itu dilakukanlah sebuah negosiasi dengan Kyai Semar penunggu di Gunung Tidar yang merupakan paku tanah jawa lalu disepakati bahwa jika melakukan dakwah di pulau Jawa tidak boleh meninggalkan kebudayaannya, seperti yang dilakukan oleh walisongo,” jelas Cak Nun.

Tidak hanya budaya yang melingkupi kegiatan seni namun juga budaya dalam berperilaku seperti Belajar disiplin, madep, mantep dan istiqomah. “Kita mulai peradaban Magelang mulai malam ini, walaupun baru mulai muncul dalam sel-sel anda namun kita harus yakin kedepan peradaban Magelang akan tumbuh lebih baik lagi,” ungkapnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd menuturkan diskusi dengan Cak Nun selalu mencerdaskan karena beliau selalu berdasarkan logika yang rapi. “Pertama, Cak Nun tidak pernah berteori dan bertele-tele. Kedua, solutif dan cocok dengan pegangan Al Qur’an dan Hadits, dan Ketiga, hasil pemaknaan akan dikembalikan kepada pemaknaan masing-masing bukan pemaknaan Cak Nun sendiri,” tuturnya.

Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng ini merupakan bagian dari kegiatan UNTIDAR Islamic Fair (UIF) ke-3 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Agama Islam (UKAI) Ar Ribath dimana diselenggarakan selama 3 hari yaitu 14-16 Desember 2018. (DN/HDN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here