Universitas Tidar bekerjasama dengan Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia menyelenggarakan Seminar Tumbuhan Obat Indonesia (TOI) ke-55 pada Rabu-Kamis, 17-18 oktober 2018 di Grand Artos Hotel & Convention, Magelang.

Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara dengan mega-biodiversitas yang telah diakui dunia. Keragaman hayati, baik tanaman maupun hewan merupakan bahan baku untuk obat tradisional maupun obat modern.

Siswanto, MHP, DTM, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menuturkan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (Balai Litbang TOOT) melalui studi RISTOJA (etnofarmakologi) telah berhasil mengidentifikasi 2.848 spesies tumbuhan obat, dengan klaim secara tradisional yang beragam.

“Tumbuhan tersebut mulai dari obat panas, obat batuk, obat diare, obat malaria, dan lain-lain. Meskipun klaim ini belum tentu tepat secara ilmiah, ini merupakan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat tradisional, baik sebagai jamu, obat herbal terstandar, maupun fitofarmaka,” katanya saat membacakan sambutan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M(K).

Di samping sebagai obat tradisional, hasil studi etnofarmakologi tersebut juga bisa dikembangkan menjadi obat modern, baik melalui isolasi bahan aktif maupun melalui teknik biofarming (rekayasa genetik). ”Maka itu penelitian dan pengembangan tumbuhan obat Indonesia berpotensi besar menuju kemandirian bahan obat. Diluar dari semua itu, perlu diperhatikan bahwa hasil produk nantinya dapat dipasarkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Wakil Walikota, Dra. Windarti Agustina Magelang dan Plt. Rektor Univeritas Tidar, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D. yang turut hadir dalam pembukaan Seminar TOI ke-55 ini menyatakan dukungannya dalam pengembangan tumbuhan obat Indonesia.

“Pemerintah Kota Magelang mengapresiasi kegiatan ini dan berharap akan muncul gagasan atau pemikiran baru tentang tumbuhan obat yang bisa dimanfaatkan kedepannya,” tutur Ibu Wakil Walikota.

Kurangnya perhatian terhadap tumbuhan obat menyebabkan masih banyak bahan baku obat yang diimpor dari luar negeri. Maka itu, seminar, penelitian dan pengembahan tumbuhan obat harus lebih digalakkan kembali.

“Perbedaan obat herbal dengan obat modern adalah, jika obat modern hanya memiliki zat akfif tunggal. Sedangkan obat herbal berasal dari ekstrak tumbuhan yang terdiri dari beberapa bahan aktif di dalamnya jadi 1 tanaman bisa memiliki beberapa manfaat,” jelas Plt. Rektor UNTIDAR.

Selain itu, pada seminar yang diikuti 300 peserta dari 60 instansi yang berasal dari 20 provinsi di Indonesia ini Dinas Pertanian provinsi jawa Tengah juga turut membuka tangan jika nantinya terwujud program pengembangan tumbuhan obat yang akan dilakukan pasca seminar ini.

Pada seminar ini, tumbuhan obat dibahas dalam berbagai sudut pandang dengan beberapa narasumber/ahli sesuai bidangnya diantaranya : Bidang Kebijakan oleh Deputi Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, BPOM RI, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc.; Bidang Ekonomi oleh Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPI), Dra. Riana Sitorus, Apt.; Bidang Kesehatan oleh Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR dari Fakultas kedokteran, Universitas Gadjah Mada.; Bidang Sosial Budaya oleh Budayawan Sutanto Mendut.; Bidang Teknik Budidaya disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, pada seminar ini dikemukaan hasil penelitian tumbuhan Kelembak (rheum officinale Baili) dan Nagasari (Mesua Ferrea L.) serta review Hasil Penelitian tentang Pare (Momordica charantian L.) oleh Prof. Gemini Alam, M.S., Apt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here