Fisiela Fikta Arunia (Faperta), Oke Amar Saputa (Faperta), Dewi Setya Lestari (FKIP), Nurul Delphi Anjani (Faperta), dan Selvina Nurafni (FKIP) membuat sebuah inovasi usaha penggemukan domba dengan konsep homestay.

Inovasi penggemukan domba ini mereka tuangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) HOTEL “JAMU” SI “OMPONG” (Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong). PKMK ini merupakan salah satu dari 12 PKM Universitas Tidar yang lolos dan didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Domba anakan berusia 7-9 bulan akan dikarantina selama 100 hari (3 bulan). Berat domba anakan rata-rata 12-20 kg per ekornya. Selama karantina, domba diberi pakan fermentasi per hari 10-20 % dari berat tubuhnya. Pakan juga ditambah dengan konsentrat sebesar 1-2% dari bobot domba. Setiap hari perkembangan domba akan diamati dengan seksama dan dilakukan penimbangan 1 minggu sekali.

“Pakan yang kami gunakan terbuat dari jerami, rumput segar, batang pisang, limbah sayur, EM4, Molase garam, dan ampas tahu yang kami fermentasi,” jelas Fisiela, Ketua Tim PKMK HOTEL “JAMU” SI “OMPONG”.

Pakan fermentasi memiliki kelebihan disbanding pakan biasa yaitu rumput segar. “Pakan fermentasi membantu memperbaiki sistem pencernaan hewan, meingkatkan beran badan, menambah nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kekebalan tubuh dari penyakit dan kotoran yang dikeluarkan tidak terlalu bau jika dibandingkan dengan rumput segar,” ujarnya.

Domba dikarantina di kandang sebesar 7 x 8 m yang didirikan diatas kolam nila dengan sistem kandang susun berukuran per kandangnya 1,5mx2m. Setiap kandang berkapasitas 4-5 ekor domba. Jumlah keseluruhan kandang yang ada berjumlah 7 kandang. Dibuat juga terminal pakan fermentasi yang terletak sejajar dengan kandang domba disebelah kolam ikan nila. Terminal pakan ini berukuran 3 x 4 m dengan 3 sub ruang. Perawatan dan kebersihan kandang dilakukan setiap minggu sekali dan kotoran domba digunakan sebagai pakan ikan nila.

Jasa homestay penggemukan domba ini terletak di Dusun Beran, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Sebagai salah satu sentra produksi sayur dan padi di Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo mendukung untuk tetap tersedianya makanan bagi domba-domba yang dikarantina.

Fisiela mengungkapkan saat ini jasa homestay penggemukan domba sedang mengkarantina domba berjumlah 7 ekor. “Sekarang kami sedang mengkarantina 7 ekor domba, ada yang masuk baru 3 minggu, ada yang sudah bunting, ada juga yang sudah 2 bulan,” ungkapnya.

Keunggulan dari jasa homestay domba potong ini adalah pemilik domba tidak perlu bersusah payah untuk berternak domba, hanya membayar Rp. 6.500,- perharinya untuk satu ekor domba dan 3 bulan setelahnya domba sudah dapat dipanen atau dipotong.

“Harga anakan domba sekitar Rp 1.250.000 setelah 3 bulan dikarantina harga jula domba bisa menjadi Rp 2.200.000. Setelah dipotong biaya karantina, pemilik domba minimal mendapatkan keuntungan Rp 300.000 per dombanya,” ungkap Fisiela.

Jasa homestay ini juga menyerap limbah organik pertanian, sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi yang ingin menjual limbah organik pertanian. Limbah organik ini digunakan untuk bahan dari pakan fermentasi untuk domba. Dari usaha ini juga membuka wawasan orang-orang untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan juga terciptanya lingkungan yang terhindar dari penyakit.

Fisiela juga menuturkan jika pemilik domba ingin menjadikan dombanya sebagai indukan, jasa penggemukan domba  ini bisa menerimanya. “Kalau ada domba yang sudah mau panen tapi mau dijadikan indukan juga bisa kami karantina lagi,” pungkas Fisiela. (Haniatul Isnaeni-mg/DN/HDN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here