PKM 2018 : TRICHODERMA, PESTISIDA AMAN DAN RAMAH LINGKUNGAN

0
112

Jamur Trichoderma sp merupakan jamur yang berfungsi untuk melawan jamur penyebab penyakit tanaman. Jamur ini merupakan biopestisida yang digunakan untuk menghambat penyakit tanaman namun tidak menggangu keadaan lingkungan seperti pestisida kimia yang digunakan secara umum.

“Jamur tersebut dapat juga disebut sebagai agen pengendali hayati layaknya pestisida yang berasal dari organisme hidup namun tidak menimbulkan dampak negatif”, ujar Tri Sulistiyo Ketua PKM Pengabdian Masyarakat ini.

 

Menurut mahasiswa jurusan Agroteknologi itu jamur ini dapat mengurangi intensitas serangan penyakit tanaman yaitu fusarium dan antraknosa yang banyak dijumpai pada penanaman petani, salah satunya tanaman cabai. Pestisida kimia yang digunakan kebanyakan petani saat ini dapat menimbulkan dampak negatif dari segi lingkungan, kesehatan, bahkan keseimbangan ekosistem.

Dusun Ngepoh Lor, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis banyak mengalami permasalahan penyakit tanaman tersebut di ladangnya dan masih menggunakan pestisida kimia dalam menghambat penyakit tanaman tersebut.

“Tanaman cabai mereka sering mengalami penyakit layu fusarium dan antraknosa dimana penyakit ini ditakuti oleh sebagian besar petani karena tanaman akan mudah mati”, katanya.

Prinsip kerja dari jamur Trichoderma sp ini yaitu melalui kompetisi atau mikroparasitis terhadap jamur lain, yang pada kasus ini jamur yang menyebabkan penyakit layu fusarium dan antraknosa juga jamur lain yang menyebabkan penyakit pada tanaman.

“Kompetisi itu seperti perebuatan makanan dan tempat hidup antar jamur, jamur Trichoderma sp merupakan jamur yang ganas dan selalu unggul terhadap jamur lain, sedangkan mikroparatis yaitu dengan cara hifa yaitu seperti akar pada tanaman dari jamur trichoderma yang melilit jamur lain, sehingga jamur yang dililit akan mati”, jelasnya.

PKM-M Untidar  ini sebelumnya mengadakan pelatihan untuk menjelaskan pengetahuan dampak dari penggunaan pestisisda kimia terus menerus saat ini masih dilakukan juga diberikan pelatihan pengembangan jamur Trichoderma sp sebagai inovasi usaha sampingan dan pemberdayaan pertanian yang bertempat di rumah Bapak Slamet Nugroho , Kepala Dusun Ngepoh Lor.

Bersama dengan warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan didampingi oleh Kepala Desa Banyusidi, mahasiswa UNTIDAR melakukan praktek langsung di ladang salah satu warga menyebarkan benih jamur tersebut. 1 bungkus Jamur hasil pengembangan digunakan untuk 1-3 tanki sprayer (semprotan). Jamur tersbut dilarutkan dalam air dan digunakan sebagai semprotan pengganti pestisida kimia.

“Saya sangat setuju diadakannya kegiatan program pelatihan ini, dengan pelatihan ini setidaknya kita bisa selangkah lebih maju untuk kembali ke pertanian organik”kata Bapak Yuwono Selaku Kepala Desa Banyusidi. (Tim PKMM/HDN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here