Khamimah, Yunita Sari dan Afif Mudrikah merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Tidar menemukan fakta bahwa alat-alat pertanian tradisional mulai tergusur oleh alat-alat modern bahkan mulai dilupakan oleh masyarakat saat ini.

Tim Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P)  Keterancaman Leksikon dan Kearifan Lokal dalam Perkakas Pertanian Tradisional Jawa ini melakukan penelitian terkait mulai punahnya nama-nama alat pertanian tradisional Jawa khususnya di wilayah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman pada bulan Maret-Juli 2018.

                       Caping, digunakan untuk melindungi petani dari sinarmatahari yang menyengat.

“Hasil penelitian menunjukkan kebenaran hipotesis awal kami bahwa nama-nama alat pertanian Jawa terancam punah. Terbukti sebanyak 53,7% dari responden yang kita survei, tidak lagi mengenal alat-alat pertanian tersebut,” ungkap Khamimah, ketua tim PKMP.

Perkembangan teknologi mulai menggerus pengetahuan akan alat-alat pertanian yang dipergunakan sehari-hari pada masa lampau. “Ada 51 nama alat-alat tradisional diantaranya luku, doran, teplok, bawak, pangot, kejen, lesung, brongsong, tumbu, pecut, dll. Nama-nama ini terdengar asing bagi anak muda sekarang dan mulai dilupakan oleh bapak, ibu, kakek atau nenek karena penggunaannya sudah mulai tergantikan oleh alat-alat moderen,” jelasnya.

Beberapa alat pertanian tradisional dan kegunaannya yaitu : Kejen (Alat pembajak bagian bawah yang menuju ke tanah), wadhung (Alat untuk memotong kayu), pethel (Alat pemotong kayu agar kayu menjadi kecil-kecil), plancong (Alat untuk mencangkul tanah), enthik (Alat untuk membawa hasil kebun/ternak dalam jumlah kecil seperti telur, salak dll.), gobang (Alat untuk mencacah tembakau).

Tujuan penelitian ini dilakukan guna menggali kembali nilai-nilai kultural yang ada di Jawa. Khususnya nilai-nilai kultural yang terkandung dalam perkakas pertanian tradisional Jawa seperti, luku, doran, teplok, bawak, dan pangot. Nama-nama dari alat-alat tersebut kini mulai mengalami pergeseran karena peningkatan teknologi.

Khamimah mengaku bahwa alasan mereka meneliti ini adalah kekhawatiran mereka terhadap perkembangan teknologi yang mengakibatkan nilai-nilai budaya Jawa terpinggirkan. “Bahkan generasi muda sekarang banyak yang tidak mengetahui nama-nama dari perkakas pertanian tradisional, yang akibatnya tentu dapat menghilangkan tradisi budaya lokal,” tambahnya.

Sorok digunakan untuk meratakan padi yang sedang dikeringkan agar terpapar matahari secara merata.

Guna memperoleh data yang valid, serangkain penelitian yang tim ini lakukan adalah melakukan observasi di lapangan dengan melakukan wawancara kepada tokoh budaya bidang pertanian. Data-data yang diperoleh dilapangan kemudian diolah menjadi kuesioner yang mereka sebarkan kepada lima puluh responden. Hasil dari kuesioner tersebut kemudian di persentase sehingga akan ditemukan persentase nama-nama alat pertanian yang terancam punah.

Setelah mengetahui data hasil penelitian, Khamimah dan teman-teman satu timnya tidak tinggal diam. Mereka berupaya melakukan konservasi terhadap nama-nama alat pertanian tradisional agar tidak punah termakan zaman. “Kami sedang mengupayakan melakukan konservasi terhadap nama-nama dari alat pertanian tersebut dengan menerbitkan tulisan-tulisan tentang perkakas pertanian tradisional ke dalam bentuk artikel dan jurnal. Selain itu, kami juga melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat khususnya mahasiswa. Harapannya agar mereka juga bisa membantu kami dalam aksi konservasi ini,” tegasnya. (Tim PKMP/DN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here