Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Bantul ahun 2016, Provinsi DIY, sebanyak 27,54% penduduknya masih mengandalkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian seperti pengrajin batu bata, beternak ayam dan bertani.

Pada saat musim hujan para petani memanfaatkan lahan mereka untuk menanam padi, sedangkan pada musim kemarau yang relatif pendek para petani memanfaatkannya untuk menanam palawija, salah satunya adalah kacang tanah (Kusmargana, 2017).

Tetapi proses penanaman kacang tanah masih menggunakan cara yang sederhana sehingga membutuhkan waktu penanaman cukup lama. Setelah sawah dibajak, para petani kemudian menanam biji kacang tanah secara manual satu persatu. Seorang petani menyatakan menanam kacang tanah di sawah seluas ± 900 m2 membutuhkan waktu 7 jam perhari yang dilakukan selama 3 hari.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, penanaman kacang dengan cara tradisional kurang efektif dan efisien. Ketertinggalan alat pertanian yang masih tradisional, mengakibatkan petani tidak bisa memaksimalkan waktu tanam, sehingga hasil panen tidak bisa maksimal. Banyak alat pertanian yang berbasis mesin otomatis dengan mengandalkan tenaga mesin. Namun hal tersebut dinilai kurang ramah lingkungan karena masih menggunakan bahan bakar fosil.

 Dari permasalahan tersebut melatarbelakangi ide dari PKM penerapan Teknologi yang diketuai oleh Erics Kharisma Danang Pradana (Teknik Mesin S1) dan keempat temannya yaitu Achmad Aziz Trihardanto (Teknik Mesin S1), Muchammad Nur Chamid (Teknik Mesin S1), Della Ika Wibowo (Teknik Mesin S1) dan Rizal Mantovani Fauzi (Teknik Mesin S1).

 LA-PANCANG DE’MODAR CRASH (PENERAPAN ALAT PENANAM KACANG DENGAN METODE OTOMASI DAYA PUTAR CRANKSHAFT) yang cara kerjanya semi otomatis dengan merubah energi putar menjadi energi translasi. LA-PANCANG ini memiliki 3 sistem kerja yang terdiri atas sistem penggalian lubang tanam, sistem penaruhan bibit, dan sistem penutupan lubang tanam.

Banyaknya keuntungan pada La Pancang ini dapat membantu para petani kacang tanah. “Alat penanam kacang ini sebagai alat pendukung pertanian, yang dapat memaksimalkan waktu tanam pada musim kemarau dengan waktu penanaman relatif singkat serta dapat memangkas biaya operasional. Jadi tidak menambah beban petani dalam membeli bahan bakar.” Jelas Erics Kharisma.

Dari keunggulan tersebut alat ini dapat memberikan beberapa keuntungan pada petani, dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: Segi waktu, cara tradisional penanaman kacang tanah untuk penanaman sawah dengan luas ±900 m² dibutuhkan waktu 7 jam perhari dilakukan selama 3 hari. Alat ini per 1 m² hanya dibutuhkan waktu ±10 detik, apabila dibandingkan dengan luas sawah yang sama yaitu 900 m². Maka, penanaman kacang tanah dengan menggunakan alat ini 4 kali lebih cepat dibandingkan menggunakan cara tradisional perluasan sawah yang sama. Dan jika dilihat dari segi kesehatan alat ini di desain sedemikian rupa dengan dimensi yang sudah menyesuaikan tinggi rata-rata orang Indonesia. Memberikan efek nyaman saat dipakai. Tidak terlalu bungkuk ataupun terlalu tinggi, sehingga keluhan kesehatan seperti sakit pinggang dan nyeri pada tengkuk dapat dikurangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here