Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengungkapkan Indeks Persepsi Korupsi atau Corruption Perception Index (CPI) negara Indonesia semakin membaik dalam Seminar Nasional “Pengenalan Bentuk Grand Design Pencegahan Korupsi”, Sabtu (21/10) di auditorium Universitas Tidar.

Tren positif pemberantasan korupsi di Indonesia dibuktikan dengan perolehan skor 2,0 poin tertinggi jika dibandingkan dengan Thailand 0,3 poin; Malaysia -0,2 poin ; Filipina -0,1 poin dan China 0,6 poin yang diamati dari tahun 1999-2016. Semakin tinggi skor maka semakin rendah tingkat risiko korupsinya.

“Data skor CPI 2,0 poin ini dikeluarkan oleh Transparency International (TI) sebuah organisasi internasional yang konsen di bidang korupsi dan politik. Grafiknya meningkat tiap tahunnya pertanda pengawasan dan penindakan korupsi di Indonesia semakin membaik. Indonesia bukan negara gagal, kita selalu berbenah salah satunya dengan kehadiran KPK ini,” tutur Agus.

Korupsi sudah ada di Indonesia sejak lama, dicantumkan dalam buku Peter Carey &  Suhardiyoto Haryadi bahwa disebutkan penyebab Perang Jawa yg utama adalah masalah korupsi selain itu pada era sistem tanam paksa petani hanya mendapatkan 20% hasil panen.

“Maka itu KPK hadir untuk mencegah kerugian negara akibat korupsi semakin besar. Tidak hanya menindak tegas para pelaku namun juga mencegah, mengawasi dan melakukan perbaikan sistem,” tambahnya.

Perbaikan sistem merupakan evaluasi dari penindakan sebuah kasus korupsi. Misalnya tentang perjalanan dinas para pejabat. Kebiasaan para tuan rumah dalam “menjamu” tamu merupakan bentuk gratifikasi yang perlu dirubah. “Saya tahu kadang tuan rumah tidak ada anggaran untuk ‘menjamu’ para tamunya pasti dicari-carikan dari mana-mana. Tidak hanya itu, ketika tamu pulang masih harus beri ‘amplop’ lagi. Inilah kebiasaan sepele yang harus ditinggalkan,” jelasnya.

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. dalam sambutannya juga secara tegas menyatakan dukungannya kepada KPK. “KPK punya tugas yang mulia, mari kita bantu KPK dalam menjalankan tugasnya ini. Walaupun banyak gesekan tapi KPK tetap gigih menjalankan tugasnya,“ ujarnya.

Seminar yang dihadiri 350 peserta yang terdiri dari pejabat instansi pendidikan, pemerintahan, bank dan perusahaan swasta di wilayah Karisidenan Kedu ini merupakan program tahunan Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (Himanisra) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNTIDAR. “Sebuah kebanggaan tersendiri disela kesibukannya Ketua KPK RI bersedia hadir dan berbagi informasi mengenai KPK di kampus tercinta ini dan tentunya kami jadi paham bahwa mahasiswa pun harus tanggap mengawasi setiap tindakan korupsi di lingkungan sekitar kita, ujar Ketua Himanisra, Muhammad Chamdani. (DN/HDN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here