Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menekankan kepada Dosen dan Profesor untuk menerbitkan karya jurnal ilmiah internasional. “Paling sedikit satu karya ilmiah dalam jurnal internasional, paten, atau karya seni monumental atau desain monumental dalam kurun waktu tiga tahun,” tuturnya pada pembukaan Rakernas Kemristekdikti, dikutip dari antara.news.com akhir Januari 2017 lalu.

Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen & Tunjangan Kehormatan Profesor merupakan “dorongan” agar dosen dan professor terus meningkatkan pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi terutama dalam bidang publikasi karya jurnal ilmiah.

Publikasi karya ilmiah di tingkat internasional meningkatkan kepercayaan masyarakat dunia akan mutu produk teknologi suatu bangasa sehingga memeberi dampak positif terutama pada peningkatan devisa bangsa tersebut. “Kontribusi para ilmuwan Indonesia dalam perkembangan khasanah ilmiah dunia diistilahkan lost science in the third world,” kata Prof. Dr. Sukarno, M.Si.

Menurut Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), UNTIDAR ini berdasarkan survei oleh Scientific American beberapa tahun lalu, kontribusi ilmuwan Indonesia dalam khasanah pengembangan ilmu setiap tahunnya hanyalah sekitar 0,012% berada jauh dibawah Singapura 0,179% apalagi dengan USA yang besarnya lebih dari 20%. “Budaya menulis yang masih belum berkembang baik di masyarakat umum maupun perguruan tinggi dan/atau rendahnya kemampuan menulis hasil-hasil penelitian atau pengabdian masyarakat merupakan salah satu faktor penyebabnya,” tambahnya.

Workshop & Coaching Clinic Penulisan Artikel Jurnal Internasional

Salah satu upaya meningkatkan publikasi karya ilmiah khususnya jurnal internasional, FKIP UNTIDAR menggelar Workshop & Coaching Clinic Penulisan Artikel Jurnal Internasional dengan menghadirkan Handoyo Puji Widodo, associate professor dari Shantou University, China.

Acara yang diselenggarakan Senin-Selasa, 30-31/01 di auditorium UNTIDAR ini diwajibkan bagi seluruh dosen FKIP serta membuka kesempatan pula bagi dosen-dosen fakultas lain untuk berpartisipasi. Tidak hanya sebatas mempresentasikan materi, Handoyo juga mereview tiap jurnal yang telah ditulis masing-masing dosen.

“Secara umum ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis jurnal internasional. Teori, metodologi serta penyajian data dan tidak kalah penting komunikasi,” jelas Handoyo.

Menurutnya, teori yang digunakan oleh para penulis Indonesia masih belum “update” yaitu belum mengikuti perkembangan teori dan riset internasional. Metodologi yang dipilih juga penting serta penyajian data yang sistemik juga menentukan keberhasilan jurnal tersebut. “Masih banyak yang hanya merangkum tidak menyajikan data. Kalau dosen kesulitan berbahasa Inggris bagaimana bisa membuat sebuah jurnal yang baik maka perlu latihan dan peningkatan kemampuan komunikasi juga penting,”tambahnya. Pembuatan jurnal internasional membutuhkan minimal satu tahun pengerjaan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para dosen/peneliti untuk mempublikasi hasil penelitiannya dalam jurnal ilmiah yang bermutu dan bertaraf internasional serta mendorong keberanian menulis artikel atau jurnal ilmiah internasional. Pasca kegiatan ini diharapkan kemampuan dosen FKIP khususnya dan UNTIDAR pada umumnya dalam menulis jurnal ilmiah internasional meningkat dan jumlah publikasi pun bertambah. (DN)

2 COMMENTS

  1. Selamat siang, maaf saya sekedar bertanya saja bagaimana caranya jika ingin mempublikasikan jurnal bid.pendidikan di kampus untidar ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here