Indonesia merupakan negara terbesar no. 3 di Dunia dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) ang terdiri dari 100 jenis sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran dan 450 jenis buah-buahan.

Keanekaragaman hayati inilah merupakan potensi sumber daya pangan Indonesia yang perlu kita dukung menuju ketahanan pangan nasional berbasis sumberdaya lokal.

“Mari kita dukung ketahanan pangan berbasis lokal menuju daya saing bangsa dimulai dari diri kita sendiri. Konsumsi bahan makanan lokal seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dll,” tutur Dr. Benny Rachman, APU, Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan pada Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian.

Dalam Seminar Nasional Merapi Integrated Sustainable Agriculture yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Tidar pada Kamis (20/11) ini, Dr. Benny selaku perwakilan dari Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian ini menekankan perlunya dukungan berbagai pihak untuk mewujudkan industri pangan berbasis lokal.

“Pemerintah daerah dituntut mempromosikan pangan lokal, kantor-kantor dinas supaya mengurangi kegiatan koordinasi tetapi dialihkan menjadi kegiatan promosi-promosi pangan lokal, dan harus konsisten dengan tujuan bangsa yaitu menjadi lumbung pangan dunia,” tambahnya.

Guru besar Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Prof. Ir. Totok Agung DH, MP, Ph.D juga menuturkan bahaya kebiasaan makan mie instan terutama bagi para mahasiswa. Mie instan terbuat dari gandum dimana Indonesia saat ini masih menjadi negara pengimpor gandum.

“Mari kita kurangi konsumsi gandum karena Indonesia masih mengimpor dari luar negeri. Mahasiswa banyak yang sering makan mie instan. Kita musti kembali ke singkong, jagung, kedelai, dll,” jelasnya.

Selain itu, Prof. Totok juga mengajak para dosen dan mahasiswa bersama-sama dengan pemerintah setempat untuk membantu mensejahterakan para petani Indonesia.

Seminar nasional dengan ruang lingkup pertanian yang pertama kali diadakan setelah Universitas Tidar mendapatkan status perguruan tinggi negeri ini diikuti 150 peserta dan 19 pemakalah. Mengangkat tema “Mengembangkan Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal Menuju Daya Saing Bangsa” kedepannya seminar ini akan dijadikan rutinitas setiap tahunnya yang diselenggarakan di bulan November dengan output berupa paper yang akan diterbitkan di jurnal maupun prosiding.

Pada kesempatan ini pula, Fakultas Pertanian, UNTIDAR menjalin kerjasama dengan PT Keju Indrakila, Boyolali. PT Keju indrakila merupakan perusahaan lokal asli Boyolali yg memproduksi olahan susu dengan produk utama keju yg merupakan salah satu perusahaan yg mendukung bahan lokal.

“Kerja sama perguruan tinggi dengan stakeholder khususnya industri bertujuan agar lebih dekat dan mengerti kebutuhan industri sehingga dapat mempersiapkan lulusan mahasiswa khususnya Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian yg siap untuk bekerja dengan industri dan atau mengembangkan wirausaha,” kata Widitya Tri Nugraha, M.Sc., Dosen Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, UNTIDAR.

Dengan penandatangan kerjasama ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang industri peternakan, mampu berkontrobusi dalan pengembangan produk olahan hasil peternakan serta kedepannya dapat bekerja sama dengan industri-industri lain khususnya di bidang peternakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here