Tim peresmian monumen penegrian UNTIDAR ; Dwi Aryanto, Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin D3 asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T.
Tim peresmian monumen penegrian UNTIDAR ; Dwi Aryanto, Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin D3 asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T.

MAGELANG – Riuh tepuk tangan pecah saat jajaran senat, tamu undangan bahkan dosen dan mahasiswa menyaksikan peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016) lalu. Patung elang yang berpijak pada batu bewarna hijau yang diibaratkan sebagai bukit Tidar itu tampak berdiri kokoh di samping gedung Rektorat saat perlahan penutup kainnya terbuka.

Pada batu terukir nama-nama “pahlawan” penegrian Universitas Tidar seperti Mayor Jendral (Purn.) H. Mardiyanto, Mayor Jendral (Purn.) Bahrul Ulum dan Ir. H. Sigit Widyonindito, M.T. yang turut hadir pada saat itu. Disisi lainnya terdapat pula plakat peresmian UNTIDAR sebagai perguruan tinggi pemerintah oleh Presiden pada saat itu, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Di sela-sela momen itu terlihat beberapa mahasiswa menggunakan jas almamater UNTIDAR yang sibuk mengawasi jalannya acara. “Kecemasan kalau mungkin kain nyangkut atau tali putus memenuhi pikiran kami sepanjang acara yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit itu,” ujar Dwi Aryanto. Tak hanya Dwi, keenam teman setimnya yaitu Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim merasakan hal yang serupa. “Ibaratnya, suksesnya perjuangan 3 hari kami ditentukan hanya 3 menit saat itu,” sela Lukman.

Merekalah tim asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T. selaku koordinator peresmian monumen. “Saya mencari mahasiswa teknik mesin dengan basic mapala dan tinggi postur badannya,” jelasnya. Kriteria tersebut dimaksudkan untuk mempermudah proses eksekusi nantinya. Mahasiswa pecinta alam atau lebih sering disebut mapala mempunyai pemahaman tali temali, pengetahuan ini dibutuhan untuk mempermudah pemasangan sling atau tali yang nantinya menarik kain penutup. “Kalau mahasiswa yang tinggi dibutuhkan untuk naik-naik ke patungnya itu, biar mudah,” tambah Pak SJP, panggilan akrab mahasiswanya.

Persiapan dilaksanakan dua hari sebelumnya, Rabu (30/03/2016), perekrutan anggota tim dan rapat perdana yang sekaligus uji coba konsep di lapangan Fakultas Teknik. Konsep besar diberikan oleh Pak SJP kemudian dieksekusi para mahasiswa. Hari berikutnya, persiapan di gedung rektorat dimulai dengan pemasangan alat dan sling. Namun, terkendala hujan persiapan baru bisa dilanjutkan pada malam harinya. “Persiapan selesai sekitar jam 1 malam. Selain itu kami juga menyiapkan rencana cadangan jika error sewaktu pelaksanaan,” kata Dwi. Jika kain penutup menyangkut atau tali putus maka ada beberapa alternatif lain. Pertama, ada dua personil yang disiapkan menarik kain secara manual dari atap gedung rektorat dan kedua, disiapkan juga kayu untuk mengatasi jika kain menyangkut.

“Masalah datang 4 jam sebelum jam pelaksanaan, kain penutup monumen ternyata masih kurang panjang,” tutur Lukman. Tim dan Pak SJP langsung melakukan rapat darurat di Bengkel Teknik. Segera Enggar dan Septian bertugas mencari kain tambahan sekaligus menyambungnya dengan kain yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Kesigapan tim berhasil mengatasi masalah tersebut.

Peralatan yang digunakan pada peresmian monumen penegrian UNTIDAR sebagian besar menggunakan peralatan yang sudah ada di Bengkel Teknik. Kerja keras dan kerjasama tim yang solid mampu membuat peresmian berlangsung dengan lancar. “Rasanya lega saat semua berjalan lancar. Kalau ada tugas selanjutnya kami siap,” tutup Lukman.

Peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016).
Peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016).

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY