Ron A. Harris, Profesor ahli Geologi dari Brigham Young University, US sedang menjelaskan hasil penelitiannya pada kunjungan akademik di UNTIDAR, Jumat (27/05/2016) di ruang LPPM-PMP

MAGELANG – Sebagai wilayah yang dilalui Ring of Fire atau jalur cincin api Pasifik sekaligus menjadi tempat bertemunya beberapa lempeng bumi seperti lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik, Indonesia berpotensi mengalami gempa bahkan tsunami.

So, who’s most at seismic and tsunami hazards in Indonesia? Can we reduce the risk?,” tanya Ron A. Harris, Profesor ahli Geologi dari Brigham Young University, US.

Pada kunjungan akademiknya, Jumat (27/05/2016), Prof. Harris membagikan sebagian kecil dari hasil penelitiannya mengenai sejarah gempa di Indonesia kepada semua tamu undangan yang hadir di ruang LPPM-PMP saat itu. “Apakah Sumatera saja, Jawa saja atau orang lain? Kita semua harus siap saat bencana itu seketika terjadi,” jelasnya.

Menurutnya, pengetahuan mitigasi bencana penting untuk mengurangi resiko jatuhnya korban pada saat bencana terjadi. Pada tahun 2013, Juliana, seorang warga Ambon yang juga anggota dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendapatkan pelatihan dari WAVES sebuah tim riset yang bergerak dalam bidang mitigasi bencana asuhan Prof. Harris berhasil menyelamatkan lebih dari 2500 orang di Negri Lima, Ambon dari tanah longsor dan banjir bandang. “Juliana menginformasikan pada warga sekitar bagaimana mendekteksi datangnya bencana dan bagaimana upaya penyelamatan diri,” kata Prof. Harris.

Selama 20 tahun melakukan penelitian di Indonesia, Prof. Harris berhasil menemukan dokumen sejarah kegempaan di Indonesia dalam bahasa Belanda. Dokumen ini memaparkan catatan gempa dan tsunami di Indonesia mulai dari tahun 1500an sampai 1800an. Disebutkan bahwa telah terjadi lebih dari 1000 gempa bahkan 130 diantaranya termasuk gempa besar dan lebih dari 95 tsunami pernah terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan gempa yang akhir-akhir ini terjadi diprediksi merupakan “pengulangan” siklus gempa yang pernah terjadi pada saat itu. Keterlambatan dalam mengetahui sejarah gempa dan tsunami ini membuat beberapa lokasi rawan bencana sudah terlanjur dijadikan lokasi tempat tinggal penduduk setempat. “Segera kami alih bahasakan dokumen ini dalam bahasa Inggris bahkan Indonesia, sehingga semua orang tahu dan memulai usaha pencegahan bencana dimulai dari pemilihan lokasi tempat tinggal atau membuat tempat tinggal tahan gempa,” tambahnya.

Perwakilan masing-masing Fakultas serta anggota LPPM-PMP UNTIDAR menyimak penjelasan mengenai mitigasi bencana dan sejarah kegempaan di Indonesia.
Perwakilan masing-masing Fakultas serta anggota LPPM-PMP UNTIDAR menyimak penjelasan mengenai mitigasi bencana dan sejarah kegempaan di Indonesia.

Singkat cerita, founder Harm’s Way, sebuah organisasi yang bergerak dalam hal mitigasi bencana ini didampingi Rr. Leslie Retno Angeningsih, Ph.D. dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta membuka kesempatan dengan Universitas Tidar untuk menjalin kerjasama khususnya dalam bidang sosialisai mitigasi bencana. Pasca bencana tsunami di Banda Aceh tahun 2004 silam, ribuan korban jiwa berjatuhan seharusnya bisa dicegah ketika masyarakat bisa memprediksi tanda-tanda tsunami saat itu dan segera menyelamatkan diri.

Kedatangan Prof. Harris disambut antusias oleh Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. kemudian dilanjutkan dengan presentasi singkatnya di hadapan para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ka. Biro dan beberapa perwakilan bidang dan fakultas di UNTIDAR. “Saya harap setelah pertemuan ini, komunikasi tetap terjalin bahkan akan lebih baik jika berlanjut pada sebuah kerjasama UNTIDAR dengan Anda (Prof. Harris), Brigham Young University maupun Harm’s Way,” kata Prof. Dr. Soekarno, M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY