MAGELANG – Masih dalam rangkaian Gebyar Ramadhan Kampus (Gerak), Takmir Masjid Mambaul Ulum dan UKAI “Ar-Ribath” menggelar pengajian Nuzulul Qur’an sekaligus pemberian santunan kepada anak yatim, Jumat (24/06) di auditorium UNTIDAR.

“Ada 21 anak yatim dari wilayah Tuguran, Dumpoh dan Sanden,” kata Akhmad Zamroni, salah satu panitia pengajian.

Pemberian santunan langsung diberikan oleh Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd dan Dekan Fakultas Teknik Ir. Kun Suharno, M.T. Santunan yang diberikan berupa peralatan sekolah berupa alat tulis dan buku beserta uang tunai. “Rajin sekolah ya, semoga ini bisa sedikit membantu,” kata Prof. Cahyo saat memberikan santunan kepada salah satu anak.

Dalam sambutannya, Rektor UNTIDAR juga berpesan kepada seluruh anak yatim khususnya dan kepada semua para peserta pengajian agar selalu senantiasa “membaca” atau belajar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT pada nabi kita Muhammad SAW pada saat pertama kalinya diturunkannya Al Qur’an.

Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur'an.
Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur’an.

Pengajian Nuzulul Qur’an kali ini mengangkat tema “Mendidik Anak Sesuai Al Quran” mengundang Fauzil Adhim, ustad sekaligus dosen UII Yogyakarta menjadi pembicara utama. Pengarang novel best seller “Ku Pinang Kau Dengan Hamdalah” dan “Kado Pernikahan untuk Isteriku” ini memaparkan bahwa pedoman terbaik dalam mendidik anak adalah Al Qur’an.

Para orang tuan dituntut untuk menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya tentang arti penting Al Qur’an sehingga berpengaruh pada tindak tanduk si anak pada kehidupan sehari-harinya. “Akhir-akhir ini banyak orang tua atau guru mulai takut memerintah atau melarang anak bahkan ketika mereka melakukan perbuatan negatif,” kata ustad Fauzil.

Dalam Al Qur’an, dijelaskan dalam Surah Luqman bahwa Luqman memberikan perintah dan larangan kepada putranya seperti tekunilah kebaikan, hindari kejahatan bahkan larangan bertindak sembarangan di muka bumi secara jelas dan tegas.

“Perintah dan larangan tidak membuat kita dalam kondisi keterbelakangan,” tambahnya.

Negara Singapura yang terkenal memberi banyak perintah dan larangan baik bagi warganya atau warga negara asing yang berkunjung di negaranya dengan perintah yang jelas. Contohnya larangan membawa durian di bandara sampai di larangan bersender pada wilayah-wilayah tertentu dengan denda. Hasilnya, perintah yang jelas tersebut melahirkan keteraturan dan kedisiplinan. Satu hal lagi yang ditekankan yaitu suara yang keras dan membentak itu berbeda. Kondisi ini yang kadang disalah artikan dan menjadi sumber kesalahpahaman.

Pada acara ini juga diumumkan para pemenang beberapa lomba yang diselenggarakan beberapa waktu lalu yaitu lomba Adzan yang dimenangkan oleh Andhi Rispata sebagai juara 1 dan Yudhana Priambodo sebagai juara ke 2. Lomba tilawah, juara 1 adalah Andi RK dan juara 2 adalah Eki. Sedangkan untuk kategori kaligrafi dimenangkan oleh Baehaki Abdullah sebagai juara 1 dan Sahrul Mubarok sebagai juara kedua. Masing-masing juara mendapatkan sertifikat dan tropi kejuaraan. (DN)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY