Proposal Program Hibah Bina Desa (PHBD) tim BEM KM Universitas Tidar dengan judul “Pemberdayaan Kaum Marjinal Berbasis Ekonomi Kreatif dengan Sistem Bank Limbah di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang Melalui Daur Ulang Limbah Kaleng Bekas Menjadi Aneka Replika Binatang” berhasil lolos seleksi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dari puluhan proposal yang dikirimkan, proposal ini adalah satu-satunya yang lolos untuk didanai.

Tim PHBD UNTIDAR 2016 terdiri dari 6 orang anggota yaitu Hasan Syukron (PBSI/FKIP) sebagai ketua tim, Rachma Listia Hidayat (AN/Fisipol), Rohman Muhammad Pradana (PBSI/FKIP), Hanafi Isnanta Prabawa (Sipil/FT), Ani Arina (EP/FE) dan Mayrida Miratista (PBI/FKIP). Keseluruhan tim adalah mahasiswa angkatan 2015 yang pada saat ini masih duduk di semester 2. “Mahasiswa sekarang itu sangat aktif dan kreatif. Walau terhitung masih baru tapi diluar dugaan proposal merekalah yang berhasil didanai Dikti,” kata Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pendamping.

PHBD adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan/ BEM. Mahasiswa pelaksana PHBD diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha dan sejahtera.

Syukron sempat membuat pengumuman di grup Facebook Mahasiswa UNTIDAR angkatan 2015 untuk mencari mahasiswa lain yang mempunyai ketertarikan yang sama dengannya yaitu dalam penulisan ilmiah. Seiring berjalannya waktu maka terkumpulah 5 anggota lain dari berbagai jurusan yang sepakat membuat proposal PHBD bersama.

“Inspirasi dari sebuah tayangan tentang pengolahan limbah kaleng oleh Bapak Kusnudin dari Borobudur Magelang,”kata Syukron.

3

Proposal Tim PHBD UNTIDAR 2016 Didanai Kemristekdikti, 2

Pengolahan kaleng bekas ini berbeda dengan pengolahan kaleng biasanya. Kaleng bekas bekas akan disulap menjadi berbagai replika binatang. Ada beberapa proses yang harus ditempuh mulai dari pemotongan, pemlintiran dan penempelan potongan kaleng tersebut pada blok kayu yang bentuknya telah disesuaikan. “Walaupun terkesan rumit, tapi dari proses ini kaleng bekas yang hanya dihargai seribuan per buahnya akan meningkat nilainya hingga menjadi ratusan ribu per produknya,” jelas Mayrida.

Satu replika binatang kurang lebih membutuhkan 10 kaleng bekas ukuran sedang, dari modal untuk pembelian kaleng sekitar Rp 20ribu maka jika produk sudah jadi bisa dipasarkan mulai dari Rp 200ribu bahkan lebih.

Rejowinangun Utara

Kelurahan Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang yang memiliki 21 dusun yang terdiri dari 21 Rukun Warga (RW) dan 91 Rukun Tetangga (RT). Kegiatan pelatihan direncanakan akan dipusatkan di Dusun Nambangan karena lokasinya strategis yaitu dekat dengan sumber limbah kaleng dan jalan utama Kecamatan Magelang Tengah.

“Nambangan tidak terlalu jauh dari Pasar Rejowinangun dan lokasi para pengepul kaleng bekas sehingga mempermudah dalam proses kegiatannya nanti,” kata Syukron.

Dalam bidang pendidikan, menurut data dari Kelurahan Rejowinangun Utara, penduduk yang bersekolah berjumlah 571 orang (59,85%) sedangkan penduduk yang tidak bersekolah berjumlah 383 orang (40,14%). Dapat disimpulkan rata-rata tingkat pendidikan pendudukanya rendah. Daerah ini dikenal sebagai daerah dengan masyarakat homogen dan mayoritas berada pada ekonomi menengah ke bawah.

Program PHBD ini akan melibatkan 60 orang terdiri dari 10 orang pelaksana dan 50 orang peserta. Target peserta adalah kalangan anak-anak putus sekolah dan pemuda pengangguran usia produktif di wilayah Kelurahan Rejowinangun Utara. Tujuannya agar terciptanya masyarakat yang mandiri, meningkatkan perekonomian serta memberantas kemiskinan.

Didanai 40 Juta Rupiah

“Jika dana sudah cair, bulan Juni ini segera kami jalankan tahap awal program ini yaitu sosialisai,” tutur Syukron.

Menurut pengumuman Dikti pada Selasa (31/05/2016) lalu, tim PHBD UNTIDAR yang semula mengusulkan dana sejumlah Rp 45 juta akhirnya ditetapkan mendapat pendanaan sebesar Rp 40 juta. Dana ini akan dipergunakan selama kurang lebih 7 bulan mulai dari tahap sosialisasi sampai penyusunan laporan akhir.

Dalam pelaksanaanya, kegiatan ini merangkul beberapa mitra diantaranya Kelurahan Rejowinangun Utara, UPTD Pasar Rejowinangun, LPPM-PMP UNTIDAR serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang.

“Tidak hanya melatih kami juga akan membantu pemasaran produk bahkan jika dibutuhkan kami akan tetap mendampingi para peserta setelah seluruh rangkaian PHBD berkahir,” tambah Syukron.

Program pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan mampu melatih dan menumbuhkan jiwa sosial para mahasiswa. Tidak hanya mampu meraih prestasi akademik namun mahasiswa diharapkan mampu terjun langsung ke masyarakat untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY