Padusan menjelang Ramadhan dan memperingati Hari Lingkungan Hidup kerjasama UNTIDAR dan Warga Potrosaran Magelang di Kali Bening Dumpoh, Minggu (05/06/2016)

Sudah menjadi ritual atau kebiasaan umat muslim di Indonesia melakukan padusan (mandi besar) saat menjelang bulan Ramadhan. Padusan yang merupakan peninggalan masa islamisasi walisongo ini bertujuan membersihkan dan mempersiapkan diri dalam menjalankan puasa.

Sehari menjelang Ramadhan, Minggu (05/06/2016) bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup, UNTIDAR bekerjasama dengan warga Potrosaran Magelang menyelenggarakan acara padusan.

“Bukan sekedar padusan biasa, kami mencoba nyengkuyung acara yang diselenggarakan masyarakat sekitar kampus,” kata Drs. Budiono, M.Pd.

Tirta Hayuning Bawono diangkat sebagai tajuk acara ini. Tirta atau air merupakan sumber penghidupan manusia. Tidak hanya digunakan untuk makan atau minum namun air juga digunakan untuk membersihkan diri. Sayangnya, manusia kadang lupa arti penting air tersebut bahkan terkadang sia-sia dalam memanfaatkannya.

Bersama ES Wibowo salah satu seniman Kota Magelang yang merupakan Ketua Padepokan Gunung Tidar, Budiono dan beberapa mahasiswa menyusuri Kali Bening membawa bambu dan kendi. Bambu yang dilobangi dibeberapa sisi akan mengalirkan air ke segala penjuru bermakna bahwa air sebagai sumber penghidupan manusia. Kendi digunakan sebagai media padusan sedangkan Kali Bening sebagai contoh “sumber” air yang perlu dilindungi dari perlakuan yang semena-mena orang-orang sekitar sebagai tempat pembuangan sampah.

“Bertepatan dengan hari lingkungan Hidup, warga seharusnya menjaga kebersihan sungai sehingga seperti namanya Kali Bening, sungai ini bersih dari sampah dan bewarna bening. Kedepannya warga bisa padusan bersama di sungai ini,” kata ES Wibowo.

Harmonisasi Sosial

UNTIDAR sebagai kampus seribu jendela diharapkan dapat menjadi sumber segala ilmu. Tidak hanya akademik namun mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan terutama yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar kampus.

“Tidak hanya numpang manggon tapi kampus harusnya memposisikan diri sebagai tangga teparo yang siap berkontribusi kepada sekitarnya,” tutur Budiono.

Menurutnya, acara seperti ini merupakan upaya ‘memartabatkan’ kampus. Tidak hanya selalu menjadi penonton namun menyentuh langsung kegiatan masyarakat. “Banyak pakar ilmu di UNTIDAR yang bisa diterjunkan langsung untuk mengatasi berbagai masalah masyarakat,” tambah Dosen PBSI FKIP UNTIDAR ini yang juga pernah penjabat sebagai Dewan Kesenian Magelang.

Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.
Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.

Dalam acara padusan ini, puluhan mahasiswa PBSI dan Administrasi Negara UNTIDAR menggunakan pakaian tradisional Jawa yaitu kebaya untuk perempuan dan kain lurik atau beskap lengkap dengan blangkon untuk laki-laki bersama dengan warga Potrosaran berjalan bersama dari Kampus menuju lokasi Kali bening di Dumpoh.

“Tidak diwajibkan. Cukup banyak teman-teman mahasiswa yang ikut bepartisipasi bahkan sudah mempersiapkan diri dengan kebaya padahal tetap harus berjalan kaki,” kata Sri Kiswo Mukti, salah satu mahasiswa PBSI semester 4.

Baginya kegiatan semacam ini perlu ditingkatkan kembali. Bahkan jika perlu tidak hanya mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Bapak Budiono namun juga mahasiswa lainnya. Pelibatan mahasiswa dipandang mampu menumbuhkan rasa cinta pada seni dan meningkatkan jiwa sosial masing-masing individu. Banyak mahasiswa dewasa ini kurang peduli dengan tradisi asli nenek moyang mereka salah satunya seperti padusan ini dan tentunya menyadarkan mereka untuk lebih bijak memanfaatkan air di kemudian hari.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY