BERPETUALANG SELAGI BERBAGI ILMU KE DAERAH PEDALAMAN INDONESIA

0
428
Amar Ma'ruf (kiri) alumni FKIP UNTIDAR yang pernah menjadi pendidik SM-3T di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara

Menjadi pengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bukanlah hal yang mudah. Amar, Umi, Anisa, Joko, dan Rahayu berbekal tekad dan semangat untuk memajukan pendidikan bagi anak-anak Indonesia, rela jauh dari tanah kelahiran mereka untuk menjadi pendidik di beberapa daerah pedalaman Indonesia.

Pada acara Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06), Himpunan Mahasiswa Bidikmisi UNTIDAR (Himadiktar) mengajak mahasiswa terutama penerima bidikmisi untuk mengikuti jejak para seniornya Amar Ma’ruf sebagai pendidik program SM-3T di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara dan Anisatul Fuadiyah sebagai pendidik dalam program Guru Perintis di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua yang merupakan alumni FKIP UNTIDAR.

“Satu kata bisa mengubah makna, apalagi satu tindakan datang ke 3T berarti perubahan akan bisa dilakukan,” tutur Amar.

Selama 1 tahun menjadi pendidik di Kampung Kulur II, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Amar dengan rekannya Umi Qodarsasi memaparkan pengalaman mereka di depan mahasiswa semester 2, 4 dan 6 dengan harapan muncul penerus mereka dikemudian hari khususnya mahasiswa UNTIDAR.

Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) merupakan program Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengirimkan guru/pendidik ke berbagai pelosok negeri.

“Ada proses pendaftaran, seleksi, pembekalan serta pelatihan dahulu sebelum diterjunkan ke wilayah yang ditentukan,” tambah Amar.

Program SM-3T tidak hanya fokus pada kegiatan belajar-mengajar, para peserta mengikuti sosialisasi anti narkoba, pelatihan militer dan pelatihan-pelatihan sesuai potensi daerah. “Di Sangihe kami juga memberi pelatihan pembuatan manisan pala, karena banyak yang menamam pohon pala disana,” jelas Amar.

Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.
Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.

Guru Perintis dan Indonesia Mengajar

Seperti halnya SM-3T, program Guru Perintis dan Indonesia Mengajar pun menyasar wilayah-wilayah yang belum atau masih tertinggal terutama dalam segi pendidikannya. Guru Perintis adalah program kerjasama Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dengan Kelompok Kerja Papua UGM dan Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) FISIPOL UGM.

Anisatul Fuadiyah dan Joko Rianto merupakan angkatan pertama Guru Perintis yang ditempatkan di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua. Program guru perintis merupakan program 5 tahunan yang dimulai tahun 2013 – 2016.

“Fasilitas pendidikan sangat minimalis. Satu gedung sekolah digunakan untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Nanti bergantian waktunya antara jam pagi dan jam siang,” kata Anisa.

Sependapat dengan Anisa, Rahayu Setiyaningrum yang berkesempatan menjadi tenaga pendidik di Kampung Besiq, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur bahkan harus memakai sampan ketika berangkat menuju sekolah jika musim hujan datang.

“Tidak mudah namun, kami percaya banyak mutiara-mutiara yang terpendam di masing-masing daerah tertinggal ini yang mungkin adalah bibit pemimpin yang unggul dikemudian hari nanti,” tutur Rahayu.

Program gagasan Anis Baswedan ini sudah berjalan mulai dari tahun 2013 lalu, berbeda dengan program SM3T yang harus berasal dari jurusan pendidikan, pengajar muda Indonesia Mengajar diperbolehkan dari semua disiplin ilmu. “Untuk yang berlatar non keguruan, kami diberikan pembekalan seperti pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran. Syarat calon peserta yaitu sarjana dengan IPK minimal 3,25, pernah melakukan pelatihan leadership, dan aktif dalam kegiatan sosial.”, ungkap Rahayu

Pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Program SM-3T, Guru Perintis maupun Indonesia Mengajar upaya mencerdaskan anak bangsa khususnya di daerah yang belum tersentuh atau minim fasilitas dari Pemerintah. Ribuan pendaftar mengikuti seleksi program-program ini setiap tahunnya membuktikan bahwa generasi muda sudah peduli dan tergerak untuk memajukan bangsa ini lewat pemerataan pendidikan di seluruh penjuru negeri ini. (NV/DN)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY