Tidak semua lahan pertanian di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Khususnya di Desa Ngendrokilo, beberapa lahan pertanian tidak mendapat aliran air yang cukup pada musim kemarau sehingga tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

“Jika musim kemarau sudah terlalu parah maka lahan pertanian berubah menjadi lahan bero yang kering kerontang. Air hujan menjadi sumber utama untuk mengairi lahan, jadi jika tidak ada air, lahan pun tidak bisa digunakan,” kata Muhammad Cahyo Purnomo.

Cahyo, mahasiswa semester 5, prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNTIDAR ini bersama kedua temannya Gilar Yuliantoro (FP/Agroteknologi) dan Aryandhini Intan Pradipta (FT/Teknik Sipil) memanfaatkan lahan bero yang terbengkalai ini sebagai tempat budidaya jamur merang hitam yang dapat dijadikan sumber penghasilan alternatif petani di daerah tersebut disaat musim kemarau datang. Ketiga mahasiswa ini tergabung dalam tim PKMK “Budidaya Jamur Merang Metode Sunbathing Bero, Upaya Pemanfaatan Cahaya Matarhari pada Musim Bero” yang merupakan salah satu PKM dari UNIDAR yang lolos pendanaan oleh Kemristekdikti Tahun 2016 ini.

“Jamur mulai dapat dipanen mulai umur 2-5 minggu. Percobaan pertama, kami mendapatkan hasil 2-10kg jamur pada tiap sungkup/kumbung/rumah jamur. Lalu hasilnya meningkat seiring dibuatnya sungkup lainnya,” tambah Cahyo.

Jamur merang hitam masing jarang dibudidayakan terutama di Kecamatan Kaliangkrik. Maka itu harga jual jamur ini juga masing terbilang tinggi yaitu Rp 17.000/kg harga ini masih bisa meningkat di kisaran Rp 20.000 di pasaran. Masa panen yang tidak terlalu lama juga menjadikan budidaya jamur ini menjanjikan sebagai sumber penghasilan alternatif para petani Desa Ngendrokilo.

Proses pemindahan jerami ke dalam sungkup untuk segera ditanami bibit jamur tiram.
Proses pemindahan jerami ke dalam sungkup untuk segera ditanami bibit jamur tiram.

Budidaya jamur merang metode sunbathing gagasan Cahyo dan teman-temannya ini memanfaatkan panas terik matahari di musim kemarau dan jerami sebagai media tanam yang cukup mudah didapatkan disekitar Kecamatan Kaliangkrik. “Jamur merang hitam dapat tumbuh baik dalam suhu 30-38 derajat celsius, kelembapan 80-85% dan pH 5,0 – 8,0. Sehingga metode sunbanthing atau terpaan matahari langsung cocok untuk budidaya jamur ini,” tambahnya.

Tidak seperti budidaya jamur yang pada umumnya yang berada di dalam ruangan, budidaya jamur merang hitam metode sunbathing ini berada diluar ruangan. Budidaya dilakukan di sungkup berukuran 9 x 1,5 m yang dialasi dan ditutupi dengan mulsa plastik. Sebelum dijadikan media tanam, jerami perlu diproses mulai dari pengeringan, perendaman, pengukusan dan pendinginan sebelum siap ditanami bibit jamur.

“Sebagai mahasiswa pertanian, saya dan Gilar bertanggung jawab penuh selama masa persiapan jerami sebagai media tanam. Sedangkan tempat tanam yang kami sebut sungkup, kami serahkan kepada Intan yang notabene mahasiswa teknik sipil lalu sisanya kami lakukan bersama-sama,” tambah Cahyo.

Dalam hal pemasaran hasil panen, Cahyo mengakui tidak menemui kendala bahkan mereka tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Sambutan konsumen yang diluar prediksi ini bahkan membuat para petani di Ngendrokilo mulai tertarik dengan budidaya jamur merang ini. (DN)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY