Bayu Setiaji Muslih di kolam ikan pembibitan lele sangkuriang dengan metode konservasi air tanah.

Air merupakan hal paling krusial dalam usaha budidaya ikan. Maka itu, mayoritas pembudidaya ikan hanya muncul di daerah dengan pasokan air melimpah. Bayu Setiaji Muslih (Teknik Sipil/FT), David Pamungkas (Ekonomi Pembangunan/FE) dan Hata Agung Pambudi (Agroteknologi/Faperta) mencoba mematahkan stigma ini dengan memperkenalkan metode konservasi air tanah dimana air limbah kolam dapat diolah dan digunakan kembali. “Air kolam yang bau dan kotor biasanya langsung dialirkan ke selokan atau saluran irigasi. Kebiasaan seperti ini dapat mencemari lingkungan. Maka itu kami memilih untuk mengolahnya dan menjadikannya cadangan air disaat musim kemarau,” kata Bayu.

Bayu, David dan Hata yang tergabung dalam tim PKMK UNTIDAR yang lolos didanai Kemristekdikti tahun 2016 dengan judul “Budidaya Lele Sangkuriang secara Organik dengan Metode Konservasi Air Tanah” memilih lokasi Daerah Sojomerto Kidul, Sidomulyo, Kecamatan Salaman sebagai lokasi pembudidayaan. “Pasokan air di daerah ini cukup melimpah disaat musim hujan tetapi disaat musim kemarau pasokan air berkurang drastis bahkan terjadi kekeringan,” tambahnya.

Menyiasati permasalahan tersebut, Bayu dan teman se-timnya menerapkan metode konservasi air tanah pada air limbah kolam lele mereka. Mulanya mereka membuat sebuah sumur resapan yang difungsikan sebagai filter limbah kolam tersebut. Kotoran pada air akan terfilter ke dalam tanah sehingga air kembali menjadi bersih dan bisa digunakan kembali. Upaya konservasi air tanah ini mampu menjaga stabilitas volume air tanah saat musim kemarau sehingga meminimalisir terjadinya kekeringan.

Bibit lele sangkuriang usia 50 hari yang siap jual.
Bibit lele sangkuriang usia 50 hari yang siap jual.

Berbeda dengan pembudidaya ikan lele pemula lainnya, Bayu memilih budidaya bibit bukannya pembesaran lele. “Berdasarkan hasil observasi, masih sedikit yang mengembangkan usaha pembibitan sehingga kami yakin pangsa pasarnya masih terbuka luas,” tutur Bayu. Selain itu, bibit lele yang dihasilkan tanpa menggunakan bahan kimia yang biasanya digunakan untuk mencegah bibit terserang penyakit. “Kunyit dan bawang putih dijadikan pengganti bahan kimia dan dicampurkan di pelet ikannya,” jelasnya.

Proses pemijahan, penetasan hingga bibit siap jual memakan waktu 50 hari. Dalam sekali panen, 6 kolam Ikan lele yang masing-masing berukuran 2×4 m yang disewa im Bayu ini mampu menghasilkan 40 ribu bibit yang terbagi dalam 3 ukuran yaitu kecil (2-3 cm), sedang (3-4 cm) dan besar (4-6 cm). Bibit lele ukurang kecil dijual Rp 55/ekor, sedang Rp 70/ekor dan besar Rp 120/ekor. Jadi jika dirata-rata, dalam sekali panen Bayu dan teman se-timnya memperoleh penghasilan kotor Rp 2.800.000

Semua hasil pembudidayaan langsung dijual di Pasar Ikan di daerah Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY. “Semua hasil panen selalu habis terjual bahkan kami terkadang keteteran melayani pesanan,” kata Bayu. Menurutnya, pasca program PKM berakhir pun usaha pembibitan ikan lele ini akan terus dilanjutkan dan memiliki prospek yang bagus di masa depan. (NV/DN)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY